Pameran Busana Muslim Australia Menyapa Publik Indonesia lewat Faith Fashion Fusion

Admin LHB Fashion

Tak seperti Indonesia, muslim di Australia merupakan kaum minoritas. Jumlah mereka hanya sekitar 5 persen dari total penduduk Australia. Meski minoritas, busana muslim justru berkembang pesat di Negeri Kanguru itu. Terbukti beberapa waktu lalu dengan munculnya burqini, baju renang muslim yang diciptakan oleh perancang Australia Aheda Zanetti.

Busana-busana yang tertutup di Australia itu berkembang lewat prestasi perempuan-perempuan muslim yang mampu unjuk gigi di Australia bahkan dunia internasional.

Perkembangan busana Muslim Australia itu kemudian hadir menyapa publik Indonesia lewat pameran bertajuk ‘Faith Fashion Fusion: Gaya Perempuan Muslim Australia’ di Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua, Jakarta mulai 1 hingga 18 Maret.

Kurator Glynis Jones memilih beberapa busana dari perancang Muslim di Australia. Busana itu dipamerkan di dalam Museum Sejarah Jakarta bersanding dengan lukisan dan benda-benda antik.

Jones juga mengumpulkan barang-barang koleksi sembilan perempuan Muslim Australia yang berprestasi. Kisah sukses di balik perempuan-perempuan Muslim ini Australia ini terpampang dalam pameran ini, salah satunya kisah Aheda Zanetti yang berhasil merancang burqini.

“Kami mau menunjukkan realitas Islam di Australia sekarang dengan keanekaragaman melalui prestasi mereka di bidang akademis, seni, dan olahraga,” kata Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia Allaster Cox saat membuka gelaran Faith Fashion Fusion di Kota Tua, Kamis (1/3).

Busana Muslim di Australia

Busana Muslim atau modest ternyata tak melulu soal hijab. Desainer Australia Delina Darusman-Gala menghadirkan busana Muslim yang banyak terinspirasi dari busana Jepang.

Saat memamerkan koleksinya di Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua, Delina menampilkan beragam mode yang memperlihatkan ciri berbusana para Muslim di Australia. Para model tak berjalan di atas catwolk melainkan berlenggok dengan latar Museum Sejarah Jakarta.

“Koleksi saya banyak terinspirasi dari Jepang. Untuk yang kali ini menampilkan sisi kasual, feminin, tomboy dan bermacam-macam aspek dari diri saya,” kata Delina saat pembukaan ‘Faith Fashion Fushion’ di Kota Tua.

Sekilas, ragam busana milik Delina itu tak jauh berbeda dengan fesyen muslim yang tengah populer di Indonesia. Celana longgar dengan modifikasi cutbray, celana aladin, beragam atasan dengan detail longgar di lengan, serta terusan. Beberapa potongan dan mode juga tampak meniru gaya Harajuku dari Jepang.

Hanya saja, tampilan busana modest Australia itu tampak lebih berani dalam penggunaan kerudung. Beberapa look, mengenakan topi golf, topi yang ditutupi dengan scarf, dan turban.

“Di Australia tidak seperti Indonesia yang mengenakan hijab rata-rata sama, tapi kami banyak memakai turban,” tutur Delina.

Delina menjelaskan ini terjadi karena muslim di Australia banyak berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Pakistan, Suriah, Libanon dan Libya.

You May Also Like..

Mengenal Bahan-bahan Pembuatan Jam Tangan dan Keunggulannya

Jam tangan menjadi salah satu bentuk koleksi aksesoris pria terbanyak yang ada di dalam kamar, dibandingkan dengan kaum hawa yang […]

Drone ‘Menjinjing’ Tas di Peragaan Dolce & Gabbana

Revolusi teknologi tak bisa dielakkan, bahkan termasuk di dunia mode. Label busana Dolce & Gabbana dalam peragaan di Milan Fashion […]

Nuansa Klasik Gaun Pengantin ala Rusly Tjohnardi Menginspirasi Para Pengunjung

Nuansa klasik menjadi inspirasi Rusly Tjohnardi dalam merancang koleksi busana pengantin terbarunya yang bertajuk ‘Classicalisto’. Sentuhan klasik itu terlihat dalam […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *